Kajian Seputar Aqidah dan Amaliah Aswaja

Bid'ah Sahabat Nabi dalam Shahih al-Bukhari

Bid’ah ada dua macam: bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. Bid’ah terpuji atau populer dengan sebutan bid’ah hasanah adalah setiap perbuatan baru yang tidak bertentangan dengan syariat. Meskipun Nabi Muhammad SAW ...

Mengenal Sosok 'Mubham' dalam Hadits

Suatu hari, Masjid Nabawi kedatangan seorang Arab kampung. Tak dinyana, ia kencing di Masjid Nabawi. Seusai kencing di area masjid, ia langsung pergi. Para sahabat yang mengetahuinya emosi...

Doa agar Terhindar dari Mengetahui Aib Guru

Dalam kitab at-Tibyân fî Adâb Hamalati al-Qurân, disebutkan bahwa Rabi’ bin Sulaiman, murid sekaligus sahabat Imam asy-Syafi’i, tidak berani minum di hadapan Imam asy-Syafi’i, karena segan padanya....

Sifat Shalat Nabi Ala ASWAJA

Sangat disayangkan bila dewasa ini muncul sikap-sikap yang kurang bijaksana dari kelompok tertentu yang sibuk mencari-cari kesalahan tata cara shalat kelompok lain dengan mengatakan landasannya lemah, bahkan diiringi dengan vonis bid’ah...

Mayit Bisa Menerima Manfaat dari Amal Orang yang Masih Hidup (Bagian Pertama)

Selain menerima manfaat amal kebajikan yang pernah dikerjakannya semasa hidup, orang yang sudah meninggal dunia juga bisa mendapatkan manfaat dari amaliah saudaranya sesama Muslim,...

Showing posts with label Nasihat Sayidina Utsman. Show all posts
Showing posts with label Nasihat Sayidina Utsman. Show all posts

Saturday, September 15, 2018

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah berkata:

“Serulah yang ma’ruf dan cegahlah yang munkar, sebelum orang-orang buruk di antara kalian menguasai kalian, sehingga saat orang-orang baik kalian menyeru, mereka tidak digubris lagi.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Kanzul Ummal, 3/682 nomor 8451.

Ini sebenarnya merupakan seruan Sayidina Utsman bin Affan ra kepada kita agar bersegera menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Inilah tugas kita sebagai hamba-hamba Allah yang beriman kepada-Nya. Mengapa yang demikian itu harus segera dilakukan?

Sayidina Utsman bin Affan ra memberikan jawaban. Kata beliau kalau tugas itu tidak segera kita laksanakan, maka bisa jadi orang-orang buruk di antara kita akan menguasai kita. Akibatnya, seruan orang-orang baik takkan diperhatikan lagi, dan seruan orang-orang bertabiat buruk itulah yang akan ditanggapi orang banyak.

Menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah manusia dari perbuatan munkar merupakan tugas yang tak terbatas waktu. Kapan pun dan di mana pun seyogyanya tugas itu kita lakukan. Bila tidak, maka manusia akan cenderung untuk bertindak ke arah yang dimurkai Allah Ta’ala. Tidak mudah memang menjalankannya, namun kita harus bergerak. Mulailah dari diri sendiri dan mulailah saat ini.
Share:

Tuesday, September 4, 2018

Akibat Perbuatan

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah berkata:

“Seandainya seseorang memasuki sebuah rumah dan berada di dalamnya. Lalu ia melakukan suatu perbuatan secara terus menerus, hampir-hampir orang-orang membicarakannya. Dan tidaklah seseorang itu melakukan suatu perbuatan kecuali Allah akan menjadikan perbuatannya itu sebagai pakaian baginya. Jika baik, maka baiklah pakaiannya. Dan jika buruk, maka buruklah pakaiannya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Kanzul Ummal, 3/674 nomor 8426. 

Kalau ada orang yang mengucapkan kata-kata buruk kepada kita, jangan cepat-cepat membalas dan membantahnya. Segeralah perhatikan perbuatan kita, karena boleh jadi ucapan buruk itu merupakan respon dari perilaku buruk yang pernah kita perbuat. Sebaliknya, kalau ada orang yang memuji kita, bersyukurlah kepada Allah, karena atas bimbingan-Nya-lah kita mampu melakukan perbuatan-perbuatan baik, sehingga orang-orang menyampaikan ucapan-ucapan baik kepada kita.

Ketahuilah, perbuatan yang kita lakukan akan menjadi ‘pakaian’ bagi kita, yang dengannya kita dikenal oleh banyak orang. Sayidina Utsman ra mengatakan bahwa Allah akan menjadikan ‘pakaian’ bagi kita apa yang kita lakukan. Kalau yang kita lakukan perbuatan-perbuatan baik, maka Allah akan memakaikan pakaian kebaikan pada kita, sehingga orang lain akan mengenali kita dari pakaian kebaikan yang kita kenakan itu. Sebaliknya, jika berbagai perilaku buruk yang kita perbuat, maka Allah akan pakaikan pada kita pakaian keburukan, sehingga orang lain pun akan mengenali kita dari pakaian keburukan yang kita kenakan.

Pilihan ada di tangan kita. Kalau Anda ingin orang lain mengenal Anda karena kebaikan Anda, maka lakukanlah berbagai macam kebaikan. Namun, jika Anda ingin dikenal karena keburukan Anda, maka berulahlah! Lakukan apa pun keburukan yang Anda inginkan. Anda akan mendapatkan apa pun yang Anda inginkan. Namun, hamba-hamba Allah yang sehat akalnya, tentu akan memilih untuk memperkenalkan dirinya kepada orang banyak melalui perbuatan-perbuatan baiknya.
Share:

Friday, August 31, 2018

Terminal Pertama Menuju Akhirat

Diriwayatkan bahwa jika melewati kuburan, Sayidina Utsman bin Affan ra berhenti dan menangis hingga membasahi jenggotnya. Lalu, ada yang berkata kepadanya, “Saat engkau ingat surga dan neraka, engkau tidak menangis. Tapi mengapa saat melewati kuburan ini engkau justru menangis?”

Sayidina Utsman bin Affan ra pun menjawab, “Sesunggunya Rasul Saw pernah bersabda, ‘Kubur itu adalah terminal pertama menuju akhirat. Jika seseorang selamat dari siksanya, maka setelahnya akan menjadi lebih mudah baginya. Namun jika ia tidak bisa lolos dari siksanya, maka yang setelahnya akan menjadi lebih sulit untuknya.’”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Az-Zuhdu, halaman 160.

Melalui sikapnya itu, Sayidina Utsman bin Affan ra sebenarnya ingin mengingatkan kita agar tidak melupakan alam kubur. Ada banyak orang yang sangat takut terhadap siksa neraka namun melupakan keadaan alam kubur. Padahal alam kubur, sebagaimana yang dikutip Sayidina Utsman ra dari sabda Nabi Saw, merupakan terminal utama yang cukup berperan dalam menentukan keadaan macam apa yang akan kita alami di akhirat kelak.

Alam kubur bisa dikatakan sebagai miniatur akhirat. Apa yang kita alami di alam kubur merupakan gambaran keadaan yang akan kita alami di akhirat. Jika seseorang mendapati alam kuburnya sebagai taman-taman surga, maka ia layak berbahagia, karena di akhirat kelak ia benar-benar akan merasakan kenikmatan surga yang sesungguhnya. Namun, jika di alam kubur ia menerima keadaan parit-parit neraka, maka itu adalah kepedihan awal, karena di akhirat kelak ia benar-benar akan merasakan kepedihan siksa neraka yang sesungguhnya. 

Oleh karena merenungkan keadaan itulah Sayidina Utsman bin Affan ra selalu menangis jika melewati kompleks pemakaman. Ia takut jika tidak mampu meloloskan diri dari siksa alam kubur. Kalau Sayidina Utsman ra saja menangis saat melalui kompleks pemakaman, sementara ia telah dijamin Allah masuk surga, bukankah kita lebih layak untuk meratapinya karena tak seorang pun yang menjamin kita akan lolos dari siksa alam kubur? Lalu, mengapa kita belum juga menangis untuk itu? Mulai sekarang, menangislah!
Share:

Monday, August 20, 2018

Andai Hati Itu Bersih

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah berkata:

“Seandainya hati kalian itu bersih, maka kalian tidak akan pernah puas dengan firman Allah. Dan aku tidak suka melalui satu hari pun kecuali aku bisa melihat firman Allah Ta’ala.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Hilyatul Auliya’, 7/300.

Tentunya kita pernah menemukan seseorang yang selalu bersama al-Qur’an. Ke mana pun ia pergi senantiasa bersamanya ada al-Qur’an. Orang seperti ini biasanya menjadikan al-Qur’an sebagai ‘teman’ yang kepadanya ia selalu berbicara. Saat-saat senggang yang oleh kebanyakan orang dipergunakan untuk istirahat dan bersantai, namun ia lebih memilih untuk mengisinya dengan membaca al-Qur’an. 

Menyaksikan keadaan itu, kita sering bertanya, mengapa kita tak mampu melakukan seperti yang ia lakukan? Kita sepertinya tidak bisa menikmati kebersamaan dengan al-Qur’an, sedangkan ia bisa menghabiskan waktunya berjam-jam bersama firman-firman Allah itu tanpa sedikit pun tampak merasa lelah. Mengapa ia mampu dan kita tidak?

Sayidina Utsman bin Affan ra memberikan jawabannya pada kita. Kata beliau itu terjadi karena kita memiliki hati yang belum bersih. Seandainya kita memiliki hati yang bersih, maka kita takkan pernah puas dengan firman-firman Allah yang sedikit. Orang yang bersih hatinya saat membaca firman Allah akan terasa nikmat. Ia tidak akan puas hanya dengan membaca satu atau dua ayat. Ia mampu menikmati firman-firman Allah itu dan selalu merasa kurang dan kurang, sehingga kalau ia sedang bersama al-Quran, bisa saja yang ia baca mencapai satu atau dua juz, bahkan boleh jadi lebih dari itu. 

Mengapa hanya orang yang hatinya bersih yang bisa melakukan itu? Ketahuilah, hati yang yang bersih adalah hati yang sehat. Sementara al-Qur’an yang di dalamnya berisi firman-firman Allah menjadi ‘makanan’ yang menyehatkan bagi hati. Hati yang bersih saat ‘bersentuhan’ dengan al-Qur’an mampu menikmatinya dan merasakan betapa ‘lezat’nya ayat-ayat al-Qur’an itu. Itulah sebabnya si pemilik hati yang bersih akan selalu merasa tidak puas dengan hanya satu atau dua ayat dari al-Qur’an. Laksana seseorang yang sedang menyantap menu yang sangat disukainya, ia takkan pernah puas memakannya hanya dengan satu atau dua suap. Ia ingin menikmati menu itu sebanyak mungkin. 

Nah, sekarang Anda sudah mengetahui betapa pentingnya kebersihan hati untuk bisa menikmati ‘menu istimewa’ hati, yakni al-Qur’an. Maka berusahalah semaksimal mungkin membersihkannya dengan cara menjauhi segala macam bentuk dosa. Kalau itu sudah Anda lakukan, maka Anda akan temukan keadaan Anda seperti yang diucapkan Sayidina Utsman bin Affan ra, “Dan aku tidak suka melalui satu hari pun kecuali aku bisa melihat firman Allah Ta’ala.”
Share:

Monday, August 13, 2018

Jelmaan Niat

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah berkata:

“Tidaklah terbetik dalam diri seseorang suatu niat kecuali Allah akan menampakkannya melalui raut wajah dan gerakan lidahnya.”

Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Istiqamah, 1/355.

Sering kita lihat di antara manusia ini ada orang yang seakan-akan mengetahui apa yang terbetik di dalam hati kita. Sebagian orang mengatakan orang semacam itu mampu membaca pikiran orang lain. Sebenarnya siapa pun yang melatih dirinya untuk memperhatikan korelasi antara raut wajah, ucapan, dan niat yang tersembunyi di dalam hati seseorang akan bisa memiliki kemampuan seperti itu. Kebanyakan kita tidak memiliki kemampuan itu karena tidak menaruh perhatian terhadapnya.

Seperti yang dikatakan oleh Sayidina Utsman bin Affan ra bahwa Allah akan menampakkan apa yang diniatkan seseorang melalui raut wajah dan gerakan lidahnya. Apabila ia menyimpan sesuatu yang baik dalam hatinya, maka raut wajah dan gerakan lidahnya pun akan menjelmakan sesuatu yang baik. Sebaliknya, apabila yang ia sembunyikan dalam benaknya sesuatu yang buruk, maka yang menjelma melalui tampilan wajah dan ucapannya pun sesuatu yang buruk.

Perhatikanlah orang-orang yang ada di sekitar kita, niscaya kita akan temukan kebenaran yang dikandung oleh ucapan Sayidina Utsman bin Affan ra tersebut. Ambillah pelajaran dari keadaan tersebut agar kita selalu tergugah untuk meniatkan dalam hati kita segala sesuatu yang baik. Percayalah, tiada hiasan diri yang paling berharga selain niat-niat baik yang selalu hadir dalam hati kita, lalu menjelma dalam setiap tindakan dan ucapan kita.
Share:

Thursday, August 2, 2018

Keinginan Si Pendosa

Sayidina Utsman bin Affan ra pernah berkata:
 
“Seorang pezina itu ingin seandainya ia bisa berzina dengan semua wanita.”
 
Tegukan Hikmah:
Nasihat ini termaktub dalam kitab Al-Istiqamah, 2/257.
 
Melalui ucapannya ini, Sayidina Utsman bin Affan ra ingin mengatakan kepada kita bahwa setiap orang yang melakukan dosa, apabila selesai dari dosa yang satu akan terbit keinginan untuk melakukan dosa-dosa lainnya. Sayidina Utsman ra mencontohkan keadaan seorang pezina. Menurutnya, seorang pezina tidak akan pernah merasa puas berzina satu kali dengan satu orang wanita. Keinginan yang muncul di dalam benaknya adalah mencoba melakukan perzinahan dengan wanita lain, bahkan kalau bisa dengan seluruh wanita yang ada di dunia ini.
 
Keadaan yang sama akan terjadi pada para pelaku dosa lainnya, misalnya pencuri, perampok, koruptor, dan lain-lain. Perhatikanlah si pencuri. Setelah berhasil mencuri di suatu tempat, ia akan memikirkan tempat mana lagi yang bisa ia gunakan untuk mencuri. Demikian juga dengan koruptor. Keberhasilannya melakukan korupsi pada satu proyek akan memunculkan keinginan untuk korupsi pada proyek-proyek yang lain. 
 
Demikianlah keadaan para pelaku dosa. Dosa memang sering kali terasa nikmat sehingga membuat pelakunya ketagihan untuk melakukannya. Si pendosa jika tidak segera bertaubat kepada Allah atas dosa yang ia lakukan, akan sulit baginya keluar dari lingkaran itu. Hanya orang-orang yang segera sadar dari kekhilafan yang ia lakukan, lalu bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya, yang akan diberikan Allah pertolongan sehingga ia selamat dari kebiasaan yang melilit kehidupan setiap pelaku dosa.
Share:

Waktu Saat Ini


Syubbanul Wathon

Tahlilan

Tamu Online